Mengapa Pembelajar dan Pengajar Al-Quran menjadi Pribadi Terbaik?

Oleh: Abu Shemia
Bidgar Dakwah PD Persis Sumedang

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ القُرْآنَ وَعَلَّمَهُ"
Sebaik-baik diantara kalian adalah yang belajar al Quran dan yang mengajarkannya" (HR : Bukhari)

Al Quran merupakan kalam Alloh SWT yang diturunkan kepada Rasululloh SAW, sekaligus sebagai mukjizat baik secara lahir maupun bathin.

Mukjizat Lahir

Secara lahir adalah dari sisi tulisannya yang sangat diakui keindahannya oleh orang- orang yang tahu tentang syair Arab. Pada zaman jahiliyah (sebelum Muhammad diangkat Rasul) Ibnu Khaldun menggambarkan bahwa syair, atau puisi merupakan seni berbahasa tingkat tinggi. Ia menjadi media untuk mengabadikan pikiran, pengalaman dan peristiwa sejarah yang terjadi dalam kehidupan masyarakat Arab waktu itu.

Masyarakat Arab Jahiliah sangat menghormati seorang penyair bahkan memuja dan menempatkan seorang penyair yang hebat dan termasyhur sebanding dengan posisi seorang nabi di hadapan umatnya, sehingga pula menjadi pembeda strata sosial di masyarakat.

Ketika al Quran turun dan dibacakan oleh Rasululloh SAW apa yang terjadi ? mereka sangat kagum terhadap al Quran. Sebagaimana terjadi pada seorang tokoh kafir dari Thaif, ahli syair, dia adalah Walid bin Mughiroh. Tatkala diperdengarkan Al Quran padanya, ia mengungkapkannya pada Abu Jahal : “Apa yang harus aku katakan mengenainya. Demi Allah tidak ada seorang pun yang lebih tahu tentang syair, bagus dan jeleknya selain aku, dan ini (al Quran) bukan syair jin. Demi Alloh tidak ada satupun yang menyerupainya. Demi Alloh ungkapannya sangat manis, sungguh sangat indah. Mampu menghancurkan apa yang ada di bawahnya. Sungguh sangat tinggi dan tidak ada yang bisa menandinginya.

Keindahannya pun adakalanya ditampakkan untuk orang awam seperti kita. Contohnya sebuah ayat {وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ} (Q:S Al-Muddatstsir: 3) Pada ayat ini begitu indah, nan syarat makna, di sana ada ungkapan رَبَّكَ كَبِّرْ. Bagaimana  huruf awal bertemu dengan huruf akhir yang sama yaitu ر,  selanjutnya huruf kedua awal bertemu dengan huruf kedua akhir yaitu ب, dan huruf terakhir bertemu dengan huruf awal yaitu sama-sama ك. Ini seperti susunan angka 123321 (Dalam dunia matematika hal tersebut dikenal dengan istilah Palindrome) dan yang paling menakjubkan adalah susunan kata tersebut tanpa kehilangan esensi makna yang terkandung di dalamnya.

Mukjizat Bathin

Al Quran bukan hanya susunan katanya yang mencengangkan tetapi isi kandungannya pun sebagai mukjizat. Dan ini terbukti banyak orang yang takjub dengan berita yang dimuat dalam al Quran. Salah satunya tentang ilmuwan Perancis yaitu Prof Dr Maurice Bucaille terkait kisah Musa dan Fir’aun.

Al-Qur’an telah mengungkap suatu detail yang sama sekali tidak diungkap oleh satu kitab suci mana pun sebelumnya, bahkan tidak diketahui kecuali yang hidup pada masa terjadinya peristiwa tersebut, yaitu pada abad 12 sebelum masehi. Kemudian pada 1898, ahli purbakala Loret, menemukan jenazah tokoh tersebut dalam bentuk mumi di Wadi Al-Muluk (Lembah Para Raja) berada di daerah Thaba, Luxor, di seberang Sungai Nil, Mesir. Kemudian pada 1907, seorang peneliti Elliot Smith membuka pembalut mumi itu dan ternyata badan Fir’aun tersebut masih dalam keadaan utuh.

Baru pada tahun 1975, mumi tersebut dibawa ke Perancis untuk diteliti dengan penanggung jawab utama dalam penelitian mumi ini adalah Prof Dr Maurice Bucaille. Bucaille lantas menyiapkan laporan akhir tentang sesuatu yang diyakininya sebagai penemuan baru, yaitu tentang penyelamatan mayat Firaun dari laut dan pengawetannya. Laporan akhirnya ini dia terbitkan dengan judul Mumi Firaun; Sebuah Penelitian Medis Modern, dengan judul aslinya, Les momies des Pharaons et la midecine. Berkat buku ini, dia menerima penghargaan dari Academie Nationale de Medicine, Prancis.

Terkait dengan hasil penelitian yang telah disusun Bucaille, salah seorang rekannya memberitahukan bahwa jangan tergesa-gesa untuk bersukacita karena sesungguhnya umat Islam telah lebih dulu berbicara tentang pengawetan mumi ini. Bucaille awalnya mengingkari hal tersebut dan menganggapnya mustahil. Menurutnya, pengungkapan rahasia seperti ini tidak mungkin diungkap kecuali dengan perkembangan ilmu modern, melalui peralatan canggih yang mutakhir dan akurat.

Namun ucapan rekannya masih terngiang dibenaknya, bahwa Al Quran–kitab suci umat Islam–telah membicarakan kisah Firaun yang jasadnya diselamatkan dari kehancuran sejak ribuan tahun lalu. Sementara itu, dalam kitab suci agama lain, hanya membicarakan tenggelamnya Firaun di tengah lautan saat mengejar Musa, dan tidak membicarakan tentang mayat Firaun.

Dari sini kemudian terjadilah perbincangan untuk pertama kalinya dengan peneliti dan ilmuwan muslim. Diceritakanlah kisah perbuatan Firaun dan pengejarannya terhadap Musa AS sampai dia tenggelam dan bagaimana jasad Firaun diselamatkan dari laut, sebagaimana yang tercantum dalam al Quran surat  Yunus ayat 92, yang artinya: ”Maka pada hari ini kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.” Ayat ini pun sangat menggetarkan hati Bucaille dan tentunya memporak porandakan hasil penelitian yang ia banggakan. Akhirnya Ia pun masuk Islam.

Maurice Bucaille  lahir pada 19 Juli 1920 dan meninggal pada 17 Februari 1998. Ia adalah seorang ahli bedah dan pengarang berkebangsaan Prancis. Setelah menulis buku tentang mumi Firaun,  Ia kemudian terkenal dengan bukunya The Bible, The Qur’an and Science yang dirilis pada tahun 1976 dan menjadi best selller international yang kemudian melahirkan Bucailleisme yaitu istilah yang digunakan untuk gerakan yang mencocokkan ilmu pengetahuan modern dengan agama, terutama Islam. Semenjak penerbitan buku The Bible, The Qur’an and Science; gerakan ini mempromosikan ide bahwa Qur’an adalah kitab yang benar berasal dari Tuhan, mengklaim bahwa didalamnya berisi fakta-fakta ilmiah.

Al Quran sebagai Barometer diri

Selain mukjizat, al Quran pun sebagai pelita, penerang dan petunjuk menuju jalan yang sesuai dengan fitrah manusia; mengabdi dan menghambakan pada Alloh SWT. Al Quran pun sebagai tolok ukur kualitas diri seorang muslim, sampai-sampai Rasululloh SAW mengatakan “Sebaik-baik di antara kalian adalah yang mempelajari al Quran dan yang mengajarkannya.” sehingga bila kita ingin menjadi yang terbaik, hebat, super hero maka libatkanlah  dalam dua hal tadi; menjadi pembelajar al Quran, pengajar al Quran atau keduanya.

Kemudian muncul pertanyaan kecil, kenapa orang yang belajar dan mengajarkan al Quran menjadi karakter orang terbaik ?

Paling tidak ada dua alasan untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Pahala Pembaca al Quran

Pertama, Karena pahala yang begitu besar bagi orang yang belajar dan mengajarkan al Quran,  sebagaimana sabda-sabda Rasululloh SAW diantaranya :

1. مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ ، وَالحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُوْلُ : آلم حَرْفٌ ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَمِيْمٌ حَرْفٌ

Siapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah, maka baginya satu kebaikan. Satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh yang semisal. Aku tidak katakan alif laam miim itu satu huruf. Namun alif itu satu huruf, laam itu satu huruf, dan miim itu satu huruf.”(HR. Tirmidzi)

2. اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ 

 “Bacalah Al-Qur’an, sesungguhnya ia akan datang di hari kiamat memberi syafaat kepada pembacanya” (HR : Muslim)

Mahasantri Mahad Aly Al-Asma sedang membaca Al-Quran

Tadabbur al Quran

Kedua, Karena orang yang belajar dan mengajarkan al Quran lebih berpeluang untuk lebih mentadabburi al Quran.

Secara bahasa tadabbur artinya, berfikir, memperhatikan dari semua sisi, merenungkan proses dan akibatnya, oleh karena itu Syaikh Al-Utsaimin mendefinisikan tadabbur sebagai berikut:

التَأَمُّلُ في الألفَاظِ لِلْوُصُوْلِ إلى مَعَانِيهَا

Merenungkan lafadz-lafadz (yang ada dalam al Quran) untuk sampai kepada kandungan-kandungan maknanya.”

Ibn Qayyim berkata : “Tidak ada yang paling bermanfaat bagi seorang hamba untuk kehidupan dan tempat kembalinya nanti serta lebih dekat dengan keselamatan kecuali dengan tadabbur al Quran. Karena dengan tadabbur menghasilkan pengetahuan mana hak dan mana yang bathil, mengokohkan pondasi keimanan dalam hati, membangun optimis dan kebahagian sehingga lahir menjadi manusia baru.”

Tadabbur al Quran pula merupakan salah satu syarat dari syarat-syarat keimanan, sehingga wajar, hanya ada dua golongan yaitu orang yang mentadabburi al Quran atau jika tidak berarti hatinya terkunci. Bila kita tidak termasuk ke dalam orang yang mentadabburi al Quran otomatis kita termasuk kepada orang-orang yang hatinya terkunci dari kebenaran. Sesuai dengan ayat:

{ أَفَلَا یَتَدَبَّرُونَ ٱلۡقُرۡءَانَ أَمۡ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقۡفَالُهَاۤ }

Maka tidakkah mereka menghayati Al-Qur`ān, ataukah hati mereka sudah terkunci?” [Surat Muhammad: 24].

Memahami arti dan makna di dalam al Quran menjadi langkah awal untuk mentadabburi al Quran, dan ini sangat wajar karena dengan tadabbur ini lebih mudah menjadikan al Quran sebagai petunjuk hidup, sehingga akan terjauh dari _seperti keledai membawa buku-buku tebal_ (peribahasa dalam al Quran) atau _monyet ngagugulung kalapa_ (peribahasa Sunda). Ibarat memegang peta harta karun, peta tersebut bisa sangat bernilai dan bermanfaat ketika kita paham membaca sandi-sandi yang ada di dalam peta tersebut, dan sebaliknya tidak akan ada arti dan nilainya kecuali nilai sebuah kertas bila tidak paham akan maksud dari peta tersebut.

Ibnu Taimiyah mengatakan, “Mentadabburi al Quran tanpa memahami maknanya adalah hal yang tidak mungkin

Maka mempelajari bahasa Arab bukan kewajiban santri dengan Kiayinya saja, bahkan Imam Syafii mewajibkan bagi seorang muslim untuk belajar bahasa Arab (al Quran) dan kewajiban ini tidak bisa gugur karena sudah sibuk bekerja, kuliah atau mengurus rumah termasuk karena sudah tidak muda lagi. Dengan memahami makna al Quran merupakan pintu gerbang terhadap tadabbur al Quran dan yang tidak paham makna al Quran diibaratkan seseorang mendapatkan surat dari Presiden dan membacanya ketika gelap gulita, yang ada hanya takut, was-was, gembira tak menentu karena tidak mengetahui isi dari surat tersebut yang ia tahu hanyalah itu surat dari seorang Presiden.

Dengan bisa mentadabburi al Quran  maka melahirkan karakter pribadi yang agung ٍخُلُقٍ عَظِيم seperti yang sudah dipraktikkan oleh panutan kita, Rasululloh SAW. وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِیمࣲ [Surat Al-Qalam: 4].

Kesimpulan

Itulah dua hal tersebut di atas, yaitu pertama, mendapatkan pahala yang besar dan kedua, lebih mudah untuk mentadabburi al Quran, maka melahirkan pribadi yang paling keren, cool dan hebat sesuai yang diinginkan Alloh SWT.

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ القرآن وَ عَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah yang belajar al Quran dan mengajarkannya” (HR : Bukhari)

Wallohu A’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *